Minggu, 03 Januari 2010
Kamis, 31 Desember 2009
SYARIAT, THARIQAT, HAQIKAT, MA'RIFAT
Oleh: H. Arsyad Ishaka
Dalam kehidupan sehari-hari masih banyak umat Islam yang menjalankan ibadah sekedar prasyarat saja. Dia tidak/belum mengetahui prosesi ibadah yang benar-benar bernilai ibadah sesungguhnya. Dalam menjalankan ibadah, baginya sudah cukup bila telah memenuhi syarat dan rukunnya sesuai dengan pelajaran ilmu fiqih yang diterimanya, baik dari orang tuanya, maupun dari guru, serta dari kitab-kitab pelajaran agama Islam. Bila demikian halnya, maka wajar kalau agama lain menganggap Islam itu dogmatis, agama keturunan, padahal Islam adalah agama yang berdasarkan kebenaran akal/pikiran.
Ketika orang bertanya, kapan kamu masuk Islam? Kebanyakan menjawab, sejak lahir, karena sudah di-Islam-kan oleh orangtua, meng-azan di kuping kanan dan meng-iqomah di kuping kiri. Benarkah itu? Bukankah bayi yang baru lahir tersebut belum mengerti apa-apa? Pertanyaan ini menjadi pegangan para misionaris Kristen Katholik untuk menjebak umat Islam yang rendah tingkat ke-iman-an dan ke-Islam-annya sehingga mereka murtad, dan memeluk agama Kristen Katholik. Prosesi kristenisasi sekarang ini selalu didahului oleh jebakan-jebakan seperti itu.
Lalu, jawaban sebenarnya yang masuk akal bagaimana? Walaupun pada dasarnya setiap manusia sudah Islam semenjak diciptakan (dalam kandungan) - Wa maa khalaqtul jinna wal insya illa liya'buduun - karena hanya Islam yang mengajarkan "Laa ilaaha illa Allah", namun pada firman Allah yang lain disebutkan yang artinya "pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Dia menjadi Yahudi, Nasaro atau Majusi tergantung pada kedua orang tuanya" sampai mereka akil balig (berakal). Kewajiban melaksanakan perintah-perintah Allah baru berlaku setelah manusia akil balig (berakal).
Misionaris Kristen akan bertanya, "kalau begitu, sebelum itu manusia belum beragama Islam?"- Ini dipakai oleh mereka menggunakan teori pembenaran guna menghindari efek hukum bagi mereka karena meng-kristen-kan anak-anak di bawah umur.
Sejujurnya harus dijawab seperti jawaban di atas, dan ditambahkan "bahwa semenjak lahir sampai akil balig menerima proses pendidikan Islam sebagai kewajiban kedua orang tuanya." Dalam Islam seseorang yang kedua orang tuanya beragama Islam, tidak ada pertanyaan kapan dan dimana anaknya masuk Islam karena yang dipakai sebagai acuan adalah kedua orang tuanya. Kalau kedua orangtuanya Islam maka dia sejak dilahirkan sudah Islam.Jadi, agama dalam pengertian Islam bukan seperti organisasi yang harus mendaftarkan diri, harus disucikan (dimandikan) oleh manusia tetapi langsung pertanggung jawaban kepada Allah. Setiap diri masing-masing mempertanggung jawabkan amal perbuatannya. Dalam Islam, siapa yang berbuat dialah yang bertanggung jawb. Makanya, anak-anak yang belum balig menjadi tanggung jawab kedua orangtuanya di hadapan Allah.
Dalam menanggapi inilah maka saya memberanikan diri untuk mengulas topik di atas, kiranya bermanfaat dalam upaya meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah swt.
Syariat dalam arti sempit berarti "tatacara" atau 'kaidah" dan dalam pengertian luas dapat didefenisikan sebagai menjalankan ibadah sesuai dengan tata caranya. Tata cara dapat dipelajari dalam ILMU FIQIH. Menyimpang dari ilmu tersebut maka ibadahnya disebut tidak sah. Rukun Islam ada 5 perkara, yaitu: mengucapkan dua kalimat sahadat, "tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul-Nya, melakukan shalat lima waktu dalam sehari semalam, berpuasa dalam bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat fitrah pada akhir bulan Ramadhan, dan berhaji jika mampu.
Syariat harus didahului dengan iman. Tanpa iman, sangat mustahil seseorang mau melakukan ibadah-ibadah wajib tadi. Rukun iman ada 6 perkara, yaitu beriman kepada: Allah, para Malaikat, Rasul-rasul utusan Allah, Kitab-kitab Suci yang didalamnya tertulis firman-firman Allah, Hari Kemudian (Akhirat/berbangkit), dan takdir baik maupun yang buruk yang datangnya dari Allah.
Antara Islam dan Iman harus berjalan beriringan. Islam tanpa Iman sangatlah mustahil, dan Iman tanpa Islam berarti menyimpang. Prosesi rukun Islam harus dilaksanakan melalui perbuatan secara phisik, sedangkan prosesi rukun Iman melalui perbuatan hati (mata hati) yang tidak seorang pun yang mengetahuinya selain Allah dan orang bersangkutan.
Seseorang yang sudah memenuhi syarat di atas, maka ia wajib menjalankannya dengan penuh konsekwen.
Pada tahap ini nilai-nilai ibadah belum terasa bermakna, masih sebatas kulit ari yang tipis, . Seseorang yang menjalankan ibadah sholat misalnya, nilai ibadahnya bukan saja sekedar mengikuti tata cara yang berurutan dari awal sampai akhir secara tertib {syariat), tetapi harus juga bisa memaknai ibadah sholat yang dilakukannya, dan memberi efek positif dalam pola hidupannya sehari-hari. "Sesungguhnya Sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar"
Pertanyaannya, apakah ibadahnya selama ini sudah benar menurut ukuran Allah swt? Benar menurut ukuran manusia dari segi ilmu Fiqih, tetapi belum tentu benar menurut Allah dari segi ilmu Tauhid. . Oleh karena itu patut kita pertanyakan pada diri masing-masing,
Maka diapun terus mendaki perjalanannya ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Perjalanan berikutnya inilah yang disebut Thariqat.
Thariqat dalam arti sempit berarti jalan atau perjalanan. Dalam pengertian luas, Thariqat dapat didefenisikan sebagai perjalanan meningkatkan nilai-nilai ibadah yang benar menurut ukuran Allah swt. Pada fase ini dia banyak belajar, baik kepada ulama maupun melalui buku-buku yang menurut dirinya bisa menambah pengetahuannya tentang yang dicarinya itu. Dia harus mencari guru yang benar-benar ulama, bukan sekedar guru. Dia pun perlu belajar dari kitab-kitab yang berkwalitas, ditulis oleh ulama yang berkwalitas pula.
Kalau salah memilih sumber, baik guru (ulama), sumber-sumber bacaan, dia bisa terjerumus pada cara-cara yang menyimpang. Oleh karena itu, harus disadari bahwa kebenaran hakiki hanya ada dalam al-Qur'an. Guru atau ulama yang benar adalah mereka yang menganjurkan untuk mempelajari dan mendalami terlebih dahulu al-Qur'an, baru kemudian beranjak ke al-Hadits sebagai pegangan pendamping, bila pelajaran yang dicarinya tidak tersurat atau tersirat dalam al-Qur'an.
Bagi orang-orang yang tidak bisa berbahasa Arab, maka dengan membaca terjemahannya itu jalan menuju peningkatan pengetahuan yang signifikan. Ingat bahwa targetnya bukan untuk menghafal atau memperlancar baca-tulis al-Qur'an, tetapi menggali isi al-Qur'an untuk diamalkan.Dalam prosesi ini dia akan mengalami cobaan dan tantangan yang berat. Tantangan itu bisa berupa: alasan tidak ada waktu (sibuk), dsb.
Bgi orang yang jeli dia akan selalu ingat isi al-Qu'an yang mengatakan bahwa, al-Qur'an sebagai tuntunan, sebagai petunjuk, sebagai kitab yang sempurna, dsbnya. Dia akan kembali kepada al-Qur'an dan terus mempelajarinya siang-malam di sela-sela waktu senggangnya, tanpa meninggalkan kewajibannya.
Sekarang ini banyak sekali orang-orang yang lebih mengutamakan pendalaman al-Hadits daripada al-Qur'an. Ini berbahaya, karena bisa-bisa ia lupa memperdalam al-Qur'an dan banyaknya aliran yang mudah menyesatkan. Dengan memperdalam al-Qur'an manusia tidak akan tersesat karena sesuai dengan jaminan Allah, tidak akan ada seorangpun yang mampu membuat semacam al-Qur'an, sedangkan al-Hadits masih bisa diserupakan orang, yang dikenal dengan sebutan hadits dhaif atau bukan hadits.
Perjalanan menggali, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari isi al-Qur'an inilah yang disebut perjalanan yang benar atau disebut dengan perjalanan menuju kebenaran hakiki. Ini menandakan bahwa ia mulai menanjak pada Ilmu Haqikat.
Selama dalam perjalanan mencari kebenaran hakiki ini seseorang akan menempuh jalan yang penuh tantangan. Iblis akan terus berusaha mengalihkan perhatian orang ini untuk malas, jenuh, alasan ketiadaan waktu dan kesempatan (sibuk), dll. Kalau dia mampu meliwati jalan mendaki tersebut, maka ia akan menemukan apa yang ia cari, tentunya tidak cukup hanya sekali menamatkan terjemahan al-Qur'an itu tetapi butuh beberapa kali.
Kenapa demikian? Dia butuh mengumpulkan materi-materi sejenis, misalnya tentang fiqih, terutama tentang ilmu tauhid.. Dengan baru menamatkannya sekali orang ini mendapatkan dirinya kegalauan. Fiqih dan tauhid berjalan beriringan, yang mana yang harus didahulukan? Bagi mereka yang menggali ilmu fiqih maka dia hanya mendaki arah mendatar. Karena itu dia perlu mendahulukan ilmu tauhid (ketuhanan), karena (harus ia sadari) sebenarnya perjalanan yang ia tempuh adalah perjalanan mencari tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan, yaitu Allah swt. Pepatah para sufi mengatakan, "man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu, wa man arafa rabbahu, faqad arafa nafsahu." Artinya, siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal tuhannya, dan barangsiapa yang mengenal tuhannya maka dia akan mengenal dirinya. Jadi ilmu haqikat ini bertujuan mencari Sang Pencipta, Sang Penguasa, yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Kuasa, dan Maha segala-galanya. Dari membaca isi al-Qur'an ia menjadi tahu, oh, begitukah Nabi Ibrahim as. mencari tuhannya?
Dari sinilah dia mulai merasakan betapa kebutuhan utama bagi dirinya adalah mengenal dan merasa dekat dengan tuhannya. Dari seringnya membaca al-Qur'an dan terjemahannya akhirnya ia menjadi tahu tentang Allah. Ilmunya semakin dalam disertai iman yang semakin mantap. Ia ingin melihat Allah swt, Tuhan Yang Maha Pencipta, tetapi ia terbentur oleh peringatan Allah, bahwa DIA terlalu Agung, Dia Maha Tinggi di atas ke-MAHA AGUNG-anNYA untuk dilihat, sehingga tidak mungkin dapat dilihat. Kalau Allah swt bisa dilihat, alangkah naifnya DIA. Jadi, sangat mustahil Allah swt bisa dilihat dalam bentuk ZAT. Akhirnya ia mengenal Zat Tuhan-nya walaupun ia tidak sanggup melihat-Nya. Inilah yang disebut dengan Ma'rifat Zat. Sampai di sini ia pun terkagum-kagum sendiri yang akhirnya mengantarnya, baik lidah terutama hatinya senantiasa berucap, "Laa ilaaha illa Allah" Tiada tuhan selain Allah.
Dia pun menanjak lagi. Walaupun Allah swt. tidak dapat dilihat, tetapi bukti-bukti ke-ADA-annya sungguh sangat jelas. Seluruh langit dan bumi beserta isi-isinya ini dari mana asalnya kalau bukan hasil ciptaan-NYA? Allah swt menciptakan dirinya, seluruh manusia, tumbuhan, hewan, dan seluruh yang tampak olehnya, maupun yang tidak tampak tetapi dia tahu ada, seperti malaikat, bangsa jin, itu semua bukti bahwa DIA ADA. Ia pun akhirnya mengenal Allah swt dari hasil ciptaan-Nya yang disebut Ma'rifat Perbuatan. Pada tingkat ini ia melihat sesuatu dengan melihat segalanya itu adalah hasil perbuatan (ciptaan) Allah swt. membuat dia semakin meresapi "Laa ilaaha illa Allah" Tida tuhan selain Allah, DIA-lah yang menciptakan ini semua, sebagaimana Nabi Ibrahim as menemukan tuhannya.
Semakin ia melangkah lebih tinggi hatinya semakin terdorong untuk terus menjejaki ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Ia terus membaca al-Qur'an dan terjemahannya untuk menggali dan mengimplementasikannya. Ia menjadi sabar karena Allah swt menyayangi orang-orang yang sabar. Ia pun menjadi lemah lembut karena Allah swt menyayangi orang-orang yang lemah lembut. dst. dst. Dalam hal ini apa yang diperintahkan oleh Allah swt ia ikuti secara benar. Pokoknya ia akan melakukan apapun yang masuk kelompok supaya disayang oleh Allah swt.
Pendakian ini menunjukkan bahwa ia mulai berhasil memperoleh apa yang dicarinya. Ia menyadari betapa al-Qur'an telah menuntun akal pikiran dan hati nuraninya yang terdalam, dan itu semua terjadi karena kehendak dan karunia Allah swt kepadanya. Benar, bahwa Allah swt Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan benar bahwa Allah memiliki sifat-sifat al-Asma ul-Husna. Semua itu dirasakannya secara langsung. Di sini ia disebut telah mencapai Ma'rifat Sifat. Kalimat "Laa ilaaha illa Allah" Tiada tuhan selain Allah semakin dalam dan mulai menjalar ke seluruh tubuh mengikuti aliran darah dan nafasnya. Denyut jantungnya berikrar Laa ilaaha illa Allah, tarikan dan helaan napasnya juga selalu dengan Laa ilaaha illa Allah. Dari kalimat ini kemudian seluruh organ tubuh baik ketika berdiam diri maupun ketika beraktifitas akhirnya tidak pernah lepas dari menyebut ALLAH... ALLAH... sedangkan akal dan hatinya bersatu menyatakan diri, aku milik-MU, aku dalam genggaman-MU, sampai pada akhirnya mengakui, aku adalah hamba-MU yang tidak memiliki daya dan upaya kecuali atas pertolongan-MU. dstnya.
Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, tak cinta maka tak rindu.
Seorang ayah/ibu pasti merasa sayang pada anak-anaknya. Rasa sayang itu menimbulkan cinta yang cukup dalam, karena itu, ketika anaknya pergi jauh walaupun tidak lama, rasa rindunya pun muncul. Timbul rasa was-was, khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap anaknya itu. Demikian pula perasaan anak terhadap ayah dan ibunya. Kenapa demikian? Karena baik ayah/ibu maupun sang anak sudah sangat mengenal satu sama lain, dari sejak si anak dilahirkan, kemudian dibesarkan, selalu bersama orang tua.
Contoh lain adalah terjadi antara pemuda dan pemudi yang sedang berpacaran. Keduanya saling merindukan satu sama lain. Terkadang masing-masing pihak tidak dapat memejamkan mata walau malam sudah larut saking rindunya. "Nasi terasa sekam, air terasa duri", pepatah itu menggambarkan kerinduan yang amat sangat sampai tidak merasa enak makan dan minum.
Kedua contoh di atas melukiskan, dari mengenal maka timbul rasa sayang, dari rasa sayang tumbuh rasa cinta, dan karena cinta yang mendalam menghasilkan rindu. Ini sifatnya kodrati, tak bisa dihindarkan, karena Allah swt menciptakan manusia untuk saling menyayangi.
Dalam al-Qur'an Allah swt berfirman yang artinya, "Orang-orang yang beriman itu amat sangat cintanya kepada Allah". Lalu, salahkah apa yang terjadi pada kedua contoh di atas? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita lanjutkan perjalanan hamba Allah yang telah sampai ke tingkat ilmu Haqikat tadi.
Setelah memperoleh jawaban pasti dari al-Qur'an seperti diuraikan di atas, dia pun mulai beranjak dengan sendirinya ke tingkat yang lebih tinggi. Kini dia telah mengenal Allah swt dengan sebenar-benarnya kenal dari gabungan ketiga ma'rifat tadi. Ketiganya tak terpisahkan, menyatu dalam satu simpul yang kokoh kuat. Saking kuatnya, membuat mata hatinya mampu melihat Allah swt dengan jelas. Ketajaman mata hati inilah yang membuat segala penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan pengecapannya merupakan pengejewantahan Allah swt. Maka masuklah sifat wajib bagi Allah yang 20 dan sifat mustahil yang 20 juga, berkumpul dengan ke 99 nama-nya yang Agung.
Berlanjut .....
Tulisan ini mungkin masih jauh dari sempurna karena bertujuan
untuk menjawab berbagai pertanyaan dalam masyarakat Islam
tentang pengertian Syariat, Thariqat, Haqikat, dan Ma'rifat.
Untuk itu. mohon diluruskan bila ada kesalahan Terima kasih!
Ketika orang bertanya, kapan kamu masuk Islam? Kebanyakan menjawab, sejak lahir, karena sudah di-Islam-kan oleh orangtua, meng-azan di kuping kanan dan meng-iqomah di kuping kiri. Benarkah itu? Bukankah bayi yang baru lahir tersebut belum mengerti apa-apa? Pertanyaan ini menjadi pegangan para misionaris Kristen Katholik untuk menjebak umat Islam yang rendah tingkat ke-iman-an dan ke-Islam-annya sehingga mereka murtad, dan memeluk agama Kristen Katholik. Prosesi kristenisasi sekarang ini selalu didahului oleh jebakan-jebakan seperti itu.
Lalu, jawaban sebenarnya yang masuk akal bagaimana? Walaupun pada dasarnya setiap manusia sudah Islam semenjak diciptakan (dalam kandungan) - Wa maa khalaqtul jinna wal insya illa liya'buduun - karena hanya Islam yang mengajarkan "Laa ilaaha illa Allah", namun pada firman Allah yang lain disebutkan yang artinya "pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan fitrah. Dia menjadi Yahudi, Nasaro atau Majusi tergantung pada kedua orang tuanya" sampai mereka akil balig (berakal). Kewajiban melaksanakan perintah-perintah Allah baru berlaku setelah manusia akil balig (berakal).
Misionaris Kristen akan bertanya, "kalau begitu, sebelum itu manusia belum beragama Islam?"- Ini dipakai oleh mereka menggunakan teori pembenaran guna menghindari efek hukum bagi mereka karena meng-kristen-kan anak-anak di bawah umur.
Sejujurnya harus dijawab seperti jawaban di atas, dan ditambahkan "bahwa semenjak lahir sampai akil balig menerima proses pendidikan Islam sebagai kewajiban kedua orang tuanya." Dalam Islam seseorang yang kedua orang tuanya beragama Islam, tidak ada pertanyaan kapan dan dimana anaknya masuk Islam karena yang dipakai sebagai acuan adalah kedua orang tuanya. Kalau kedua orangtuanya Islam maka dia sejak dilahirkan sudah Islam.Jadi, agama dalam pengertian Islam bukan seperti organisasi yang harus mendaftarkan diri, harus disucikan (dimandikan) oleh manusia tetapi langsung pertanggung jawaban kepada Allah. Setiap diri masing-masing mempertanggung jawabkan amal perbuatannya. Dalam Islam, siapa yang berbuat dialah yang bertanggung jawb. Makanya, anak-anak yang belum balig menjadi tanggung jawab kedua orangtuanya di hadapan Allah.
Dalam menanggapi inilah maka saya memberanikan diri untuk mengulas topik di atas, kiranya bermanfaat dalam upaya meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah swt.
SYARIAT
Syariat dalam arti sempit berarti "tatacara" atau 'kaidah" dan dalam pengertian luas dapat didefenisikan sebagai menjalankan ibadah sesuai dengan tata caranya. Tata cara dapat dipelajari dalam ILMU FIQIH. Menyimpang dari ilmu tersebut maka ibadahnya disebut tidak sah. Rukun Islam ada 5 perkara, yaitu: mengucapkan dua kalimat sahadat, "tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah rasul-Nya, melakukan shalat lima waktu dalam sehari semalam, berpuasa dalam bulan Ramadhan, mengeluarkan zakat fitrah pada akhir bulan Ramadhan, dan berhaji jika mampu.
Syariat harus didahului dengan iman. Tanpa iman, sangat mustahil seseorang mau melakukan ibadah-ibadah wajib tadi. Rukun iman ada 6 perkara, yaitu beriman kepada: Allah, para Malaikat, Rasul-rasul utusan Allah, Kitab-kitab Suci yang didalamnya tertulis firman-firman Allah, Hari Kemudian (Akhirat/berbangkit), dan takdir baik maupun yang buruk yang datangnya dari Allah.
Antara Islam dan Iman harus berjalan beriringan. Islam tanpa Iman sangatlah mustahil, dan Iman tanpa Islam berarti menyimpang. Prosesi rukun Islam harus dilaksanakan melalui perbuatan secara phisik, sedangkan prosesi rukun Iman melalui perbuatan hati (mata hati) yang tidak seorang pun yang mengetahuinya selain Allah dan orang bersangkutan.
Seseorang yang sudah memenuhi syarat di atas, maka ia wajib menjalankannya dengan penuh konsekwen.
Pada tahap ini nilai-nilai ibadah belum terasa bermakna, masih sebatas kulit ari yang tipis, . Seseorang yang menjalankan ibadah sholat misalnya, nilai ibadahnya bukan saja sekedar mengikuti tata cara yang berurutan dari awal sampai akhir secara tertib {syariat), tetapi harus juga bisa memaknai ibadah sholat yang dilakukannya, dan memberi efek positif dalam pola hidupannya sehari-hari. "Sesungguhnya Sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan munkar"
Pertanyaannya, apakah ibadahnya selama ini sudah benar menurut ukuran Allah swt? Benar menurut ukuran manusia dari segi ilmu Fiqih, tetapi belum tentu benar menurut Allah dari segi ilmu Tauhid. . Oleh karena itu patut kita pertanyakan pada diri masing-masing,
Maka diapun terus mendaki perjalanannya ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Perjalanan berikutnya inilah yang disebut Thariqat.
THARIQAT
Thariqat dalam arti sempit berarti jalan atau perjalanan. Dalam pengertian luas, Thariqat dapat didefenisikan sebagai perjalanan meningkatkan nilai-nilai ibadah yang benar menurut ukuran Allah swt. Pada fase ini dia banyak belajar, baik kepada ulama maupun melalui buku-buku yang menurut dirinya bisa menambah pengetahuannya tentang yang dicarinya itu. Dia harus mencari guru yang benar-benar ulama, bukan sekedar guru. Dia pun perlu belajar dari kitab-kitab yang berkwalitas, ditulis oleh ulama yang berkwalitas pula.
Kalau salah memilih sumber, baik guru (ulama), sumber-sumber bacaan, dia bisa terjerumus pada cara-cara yang menyimpang. Oleh karena itu, harus disadari bahwa kebenaran hakiki hanya ada dalam al-Qur'an. Guru atau ulama yang benar adalah mereka yang menganjurkan untuk mempelajari dan mendalami terlebih dahulu al-Qur'an, baru kemudian beranjak ke al-Hadits sebagai pegangan pendamping, bila pelajaran yang dicarinya tidak tersurat atau tersirat dalam al-Qur'an.
Bagi orang-orang yang tidak bisa berbahasa Arab, maka dengan membaca terjemahannya itu jalan menuju peningkatan pengetahuan yang signifikan. Ingat bahwa targetnya bukan untuk menghafal atau memperlancar baca-tulis al-Qur'an, tetapi menggali isi al-Qur'an untuk diamalkan.Dalam prosesi ini dia akan mengalami cobaan dan tantangan yang berat. Tantangan itu bisa berupa: alasan tidak ada waktu (sibuk), dsb.
Bgi orang yang jeli dia akan selalu ingat isi al-Qu'an yang mengatakan bahwa, al-Qur'an sebagai tuntunan, sebagai petunjuk, sebagai kitab yang sempurna, dsbnya. Dia akan kembali kepada al-Qur'an dan terus mempelajarinya siang-malam di sela-sela waktu senggangnya, tanpa meninggalkan kewajibannya.
Sekarang ini banyak sekali orang-orang yang lebih mengutamakan pendalaman al-Hadits daripada al-Qur'an. Ini berbahaya, karena bisa-bisa ia lupa memperdalam al-Qur'an dan banyaknya aliran yang mudah menyesatkan. Dengan memperdalam al-Qur'an manusia tidak akan tersesat karena sesuai dengan jaminan Allah, tidak akan ada seorangpun yang mampu membuat semacam al-Qur'an, sedangkan al-Hadits masih bisa diserupakan orang, yang dikenal dengan sebutan hadits dhaif atau bukan hadits.
Perjalanan menggali, mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari isi al-Qur'an inilah yang disebut perjalanan yang benar atau disebut dengan perjalanan menuju kebenaran hakiki. Ini menandakan bahwa ia mulai menanjak pada Ilmu Haqikat.
HAQIKAT
Selama dalam perjalanan mencari kebenaran hakiki ini seseorang akan menempuh jalan yang penuh tantangan. Iblis akan terus berusaha mengalihkan perhatian orang ini untuk malas, jenuh, alasan ketiadaan waktu dan kesempatan (sibuk), dll. Kalau dia mampu meliwati jalan mendaki tersebut, maka ia akan menemukan apa yang ia cari, tentunya tidak cukup hanya sekali menamatkan terjemahan al-Qur'an itu tetapi butuh beberapa kali.
Kenapa demikian? Dia butuh mengumpulkan materi-materi sejenis, misalnya tentang fiqih, terutama tentang ilmu tauhid.. Dengan baru menamatkannya sekali orang ini mendapatkan dirinya kegalauan. Fiqih dan tauhid berjalan beriringan, yang mana yang harus didahulukan? Bagi mereka yang menggali ilmu fiqih maka dia hanya mendaki arah mendatar. Karena itu dia perlu mendahulukan ilmu tauhid (ketuhanan), karena (harus ia sadari) sebenarnya perjalanan yang ia tempuh adalah perjalanan mencari tuhan yang sebenar-benarnya Tuhan, yaitu Allah swt. Pepatah para sufi mengatakan, "man arafa nafsahu faqad arafa rabbahu, wa man arafa rabbahu, faqad arafa nafsahu." Artinya, siapa yang mengenal dirinya maka dia akan mengenal tuhannya, dan barangsiapa yang mengenal tuhannya maka dia akan mengenal dirinya. Jadi ilmu haqikat ini bertujuan mencari Sang Pencipta, Sang Penguasa, yang Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Kuasa, dan Maha segala-galanya. Dari membaca isi al-Qur'an ia menjadi tahu, oh, begitukah Nabi Ibrahim as. mencari tuhannya?
Dari sinilah dia mulai merasakan betapa kebutuhan utama bagi dirinya adalah mengenal dan merasa dekat dengan tuhannya. Dari seringnya membaca al-Qur'an dan terjemahannya akhirnya ia menjadi tahu tentang Allah. Ilmunya semakin dalam disertai iman yang semakin mantap. Ia ingin melihat Allah swt, Tuhan Yang Maha Pencipta, tetapi ia terbentur oleh peringatan Allah, bahwa DIA terlalu Agung, Dia Maha Tinggi di atas ke-MAHA AGUNG-anNYA untuk dilihat, sehingga tidak mungkin dapat dilihat. Kalau Allah swt bisa dilihat, alangkah naifnya DIA. Jadi, sangat mustahil Allah swt bisa dilihat dalam bentuk ZAT. Akhirnya ia mengenal Zat Tuhan-nya walaupun ia tidak sanggup melihat-Nya. Inilah yang disebut dengan Ma'rifat Zat. Sampai di sini ia pun terkagum-kagum sendiri yang akhirnya mengantarnya, baik lidah terutama hatinya senantiasa berucap, "Laa ilaaha illa Allah" Tiada tuhan selain Allah.
Dia pun menanjak lagi. Walaupun Allah swt. tidak dapat dilihat, tetapi bukti-bukti ke-ADA-annya sungguh sangat jelas. Seluruh langit dan bumi beserta isi-isinya ini dari mana asalnya kalau bukan hasil ciptaan-NYA? Allah swt menciptakan dirinya, seluruh manusia, tumbuhan, hewan, dan seluruh yang tampak olehnya, maupun yang tidak tampak tetapi dia tahu ada, seperti malaikat, bangsa jin, itu semua bukti bahwa DIA ADA. Ia pun akhirnya mengenal Allah swt dari hasil ciptaan-Nya yang disebut Ma'rifat Perbuatan. Pada tingkat ini ia melihat sesuatu dengan melihat segalanya itu adalah hasil perbuatan (ciptaan) Allah swt. membuat dia semakin meresapi "Laa ilaaha illa Allah" Tida tuhan selain Allah, DIA-lah yang menciptakan ini semua, sebagaimana Nabi Ibrahim as menemukan tuhannya.
Semakin ia melangkah lebih tinggi hatinya semakin terdorong untuk terus menjejaki ke tingkat yang lebih tinggi lagi. Ia terus membaca al-Qur'an dan terjemahannya untuk menggali dan mengimplementasikannya. Ia menjadi sabar karena Allah swt menyayangi orang-orang yang sabar. Ia pun menjadi lemah lembut karena Allah swt menyayangi orang-orang yang lemah lembut. dst. dst. Dalam hal ini apa yang diperintahkan oleh Allah swt ia ikuti secara benar. Pokoknya ia akan melakukan apapun yang masuk kelompok supaya disayang oleh Allah swt.
Pendakian ini menunjukkan bahwa ia mulai berhasil memperoleh apa yang dicarinya. Ia menyadari betapa al-Qur'an telah menuntun akal pikiran dan hati nuraninya yang terdalam, dan itu semua terjadi karena kehendak dan karunia Allah swt kepadanya. Benar, bahwa Allah swt Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, dan benar bahwa Allah memiliki sifat-sifat al-Asma ul-Husna. Semua itu dirasakannya secara langsung. Di sini ia disebut telah mencapai Ma'rifat Sifat. Kalimat "Laa ilaaha illa Allah" Tiada tuhan selain Allah semakin dalam dan mulai menjalar ke seluruh tubuh mengikuti aliran darah dan nafasnya. Denyut jantungnya berikrar Laa ilaaha illa Allah, tarikan dan helaan napasnya juga selalu dengan Laa ilaaha illa Allah. Dari kalimat ini kemudian seluruh organ tubuh baik ketika berdiam diri maupun ketika beraktifitas akhirnya tidak pernah lepas dari menyebut ALLAH... ALLAH... sedangkan akal dan hatinya bersatu menyatakan diri, aku milik-MU, aku dalam genggaman-MU, sampai pada akhirnya mengakui, aku adalah hamba-MU yang tidak memiliki daya dan upaya kecuali atas pertolongan-MU. dstnya.
MA'RIFATULLAH
Tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta, tak cinta maka tak rindu.
Seorang ayah/ibu pasti merasa sayang pada anak-anaknya. Rasa sayang itu menimbulkan cinta yang cukup dalam, karena itu, ketika anaknya pergi jauh walaupun tidak lama, rasa rindunya pun muncul. Timbul rasa was-was, khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap anaknya itu. Demikian pula perasaan anak terhadap ayah dan ibunya. Kenapa demikian? Karena baik ayah/ibu maupun sang anak sudah sangat mengenal satu sama lain, dari sejak si anak dilahirkan, kemudian dibesarkan, selalu bersama orang tua.
Contoh lain adalah terjadi antara pemuda dan pemudi yang sedang berpacaran. Keduanya saling merindukan satu sama lain. Terkadang masing-masing pihak tidak dapat memejamkan mata walau malam sudah larut saking rindunya. "Nasi terasa sekam, air terasa duri", pepatah itu menggambarkan kerinduan yang amat sangat sampai tidak merasa enak makan dan minum.
Kedua contoh di atas melukiskan, dari mengenal maka timbul rasa sayang, dari rasa sayang tumbuh rasa cinta, dan karena cinta yang mendalam menghasilkan rindu. Ini sifatnya kodrati, tak bisa dihindarkan, karena Allah swt menciptakan manusia untuk saling menyayangi.
Dalam al-Qur'an Allah swt berfirman yang artinya, "Orang-orang yang beriman itu amat sangat cintanya kepada Allah". Lalu, salahkah apa yang terjadi pada kedua contoh di atas? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita lanjutkan perjalanan hamba Allah yang telah sampai ke tingkat ilmu Haqikat tadi.
Setelah memperoleh jawaban pasti dari al-Qur'an seperti diuraikan di atas, dia pun mulai beranjak dengan sendirinya ke tingkat yang lebih tinggi. Kini dia telah mengenal Allah swt dengan sebenar-benarnya kenal dari gabungan ketiga ma'rifat tadi. Ketiganya tak terpisahkan, menyatu dalam satu simpul yang kokoh kuat. Saking kuatnya, membuat mata hatinya mampu melihat Allah swt dengan jelas. Ketajaman mata hati inilah yang membuat segala penglihatan, pendengaran, penciuman, perabaan, dan pengecapannya merupakan pengejewantahan Allah swt. Maka masuklah sifat wajib bagi Allah yang 20 dan sifat mustahil yang 20 juga, berkumpul dengan ke 99 nama-nya yang Agung.
Berlanjut .....
Langganan:
Postingan (Atom)
